
BANJARMASIN – Langit biru di atas Bumi Antasari kini mulai memucat seiring dengan berkurangnya intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel). Berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kalimantan Selatan akan segera memasuki fase musim kemarau yang diprediksi akan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini membawa alarm peringatan dini bagi seluruh elemen masyarakat: ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kini berada di depan mata.
Menyikapi fenomena iklim ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama jajaran TNI, Polri, dan BPBD mulai menggencarkan seruan kepada seluruh warga untuk proaktif melakukan pencegahan Karhutla sejak dini. Mengingat pengalaman pahit di masa lalu, di mana kabut asap pekat sempat melumpuhkan aktivitas ekonomi dan pendidikan, kesadaran kolektif masyarakat dianggap sebagai benteng pertahanan paling utama dalam menjaga paru-paru hijau Kalteng tetap lestari.
Mengapa Kemarau Tahun Ini Lebih Diwaspadai?
Kemarau panjang bukan sekadar fenomena cuaca biasa. Penurunan drastis tingkat kelembapan udara dan mengeringnya cadangan air di lahan gambut menciptakan kondisi ideal bagi munculnya titik api (hotspot). Kalimantan Selatan, dengan topografi yang memiliki banyak kawasan rawa dan lahan gambut, memiliki kerentanan yang sangat tinggi.
Lahan gambut yang mengering bertindak seperti tumpukan bahan bakar yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan. “Sifat lahan gambut di daerah kita, seperti di Banjarbaru, Tanah Laut, dan Barito Kuala, sangat unik. Jika terbakar, api menjalar di bawah permukaan tanah. Permukaannya mungkin terlihat padam, tapi di kedalaman satu hingga dua meter, api masih membara. Inilah mengapa pencegahan sebelum api muncul jauh lebih efektif daripada pemadaman,” ujar salah satu ahli lingkungan di Universitas Lambung Mangkurat.
Peran Krusial Masyarakat dalam Pencegahan
Pemerintah menyadari bahwa jumlah personel pemadam kebakaran, baik dari Manggala Agni maupun BPBD, sangat terbatas jika dibandingkan dengan luas wilayah Kalsel. Oleh karena itu, masyarakat diajak untuk menjadi garda terdepan dalam mitigasi bencana.
Beberapa langkah nyata yang dapat dilakukan oleh warga Kalsel antara lain:
- Hindari Membakar Lahan untuk Pertanian: Tradisi membersihkan lahan dengan cara dibakar (land clearing) harus segera ditinggalkan. Masyarakat didorong untuk beralih ke metode Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dengan menggunakan alat berat atau komposter.
- Lapor Cepat Titik Api Kecil: Kecepatan pelaporan sangat menentukan. Jika warga melihat asap atau api kecil di lahan kosong, segera laporkan ke aparat desa atau relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) terdekat agar api tidak meluas.
- Menjaga Kondisi Embung dan Sekat Kanal: Bagi warga yang tinggal di kawasan gambut, menjaga agar kanal-kanal tetap terisi air dan tidak kering adalah kunci untuk menjaga kelembapan tanah.
- Waspada Puntung Rokok dan Sampah: Hal sepele seperti membuang puntung rokok sembarangan atau membakar sampah di dekat lahan kering dapat menjadi pemicu kebakaran besar.
Sektor Esensial yang Terancam: Kesehatan hingga Penerbangan
Jika Karhutla tidak dicegah sejak dini, dampaknya akan menjalar ke seluruh sendi kehidupan warga Kalsel. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan betapa merugikannya kabut asap:
- Krisis ISPA: Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akan melonjak tajam, terutama menyerang kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, dan lansia. Partikel debu sisa kebakaran (PM2.5) dapat masuk ke paru-paru dan menyebabkan kerusakan jangka panjang.
- Gangguan Penerbangan: Bandara Internasional Syamsudin Noor sering kali mengalami kendala operasional akibat jarak pandang yang terbatas ( visibility ). Penundaan atau pembatalan penerbangan tidak hanya merugikan penumpang, tetapi juga mengganggu arus logistik barang ke Kalimantan Selatan.
- Pendidikan Terganggu: Saat kabut asap mencapai level berbahaya, sekolah-sekolah terpaksa diliburkan atau dialihkan ke sistem daring. Hal ini tentu menghambat proses belajar-mengajar generasi muda Banua.
Komitmen Aparat: Gakkum Tanpa Pandang Bulu
Kapolda Kalsel dalam berbagai kesempatan telah menegaskan komitmennya terhadap penegakan hukum (Gakkum) bagi pelaku pembakaran lahan, baik perorangan maupun korporasi. Satgas Karhutla Kalsel tidak akan segan-segan menyeret mereka yang sengaja membakar lahan ke ranah pidana sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Penegakan hukum ini penting untuk memberikan efek jera. Masyarakat diajak untuk ikut mengawasi jika ada korporasi nakal yang memanfaatkan musim kemarau untuk membersihkan lahan dengan cara instan dan murah namun merusak lingkungan secara masif.
Inovasi Pencegahan: Teknologi dan Kearifan Lokal
Tahun ini, pencegahan Karhutla di Kalsel juga didorong dengan penggunaan teknologi. Pemantauan titik panas berbasis satelit kini dapat diakses oleh masyarakat luas melalui aplikasi tertentu. Dengan teknologi ini, respons terhadap munculnya titik api diharapkan bisa di bawah satu jam.
Selain teknologi, kearifan lokal dalam menjaga hutan dan rawa juga kembali diperkuat. Tokoh-tokoh adat dan agama di desa-desa diajak untuk menyisipkan pesan pelestarian lingkungan dalam setiap pertemuan warga. “Hutan adalah warisan anak cucu kita. Membakarnya berarti kita sedang membakar masa depan mereka,” pesan ini menjadi narasi utama dalam setiap sosialisasi di tingkat pedesaan.
Kesiapan Relawan dan Masyarakat Peduli Api (MPA)
Relawan MPA yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Kalsel telah menjalani serangkaian pelatihan simulasi pemadaman. Mereka dibekali dengan alat pelindung diri dan mesin pompa air portable. Keberadaan MPA sangat vital karena merekalah yang paling tahu medan dan paling cepat sampai di lokasi jika terjadi kebakaran di wilayah terpencil.
Pemerintah daerah memberikan apresiasi tinggi bagi para relawan ini. Namun, kerja relawan akan jauh lebih ringan jika masyarakat secara umum memiliki kesadaran untuk tidak memulai api. Slogan “Mencegah Lebih Baik daripada Memadamkan” benar-benar menjadi inti dari persiapan menghadapi kemarau panjang tahun ini.
Mitigasi Dampak Ekonomi
Kemarau panjang juga berpotensi memicu inflasi jika distribusi pangan terhambat oleh kabut asap. Pemerintah Provinsi Kalsel memastikan stok pangan dan obat-obatan, terutama masker medis dan oksigen, dalam kondisi aman. Masyarakat juga diajak untuk menjaga ketersediaan air bersih di rumah masing-masing melalui penghematan penggunaan air selama musim kemarau.
Kesimpulan: Kebersamaan Menjaga Bumi Banua
Menghadapi kemarau panjang dan ancaman Karhutla bukan hanya tugas pemerintah, TNI, atau Polri semata. Ini adalah perjuangan kolektif seluruh warga Kalimantan Selatan. Setiap individu memiliki peran penting, mulai dari hal terkecil seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan hingga keputusan besar untuk tidak membakar lahan demi kepentingan ekonomi sesaat.

Mari kita buktikan bahwa warga Kalimantan Selatan adalah masyarakat yang tangguh dan sadar lingkungan. Jangan biarkan kabut asap kembali menutupi sinar matahari dan merampas udara segar anak cucu kita. Dengan kolaborasi, kewaspadaan, dan doa, kita yakin mampu melewati musim kemarau tahun ini tanpa bencana Karhutla yang berarti. Kalsel Siaga, Rakyat Sejahtera, Alam Terjaga.
BACA BERITA LAINNYA DARI KAMI HANYA DISINI:
–BERITA IRON4D
–BERITA BOLA
–BERITA KALTIM
–BERITA KALTENG
Leave a Reply