
Kalimantan Selatan sering dijuluki sebagai “Negeri Seribu Sungai”. Julukan ini bukan sekadar kiasan, melainkan cerminan dari denyut nadi kehidupan masyarakatnya yang sejak berabad-abad lalu bergantung pada aliran air. Di antara sekian banyak sungai yang membelah Bumi Antasari, terdapat satu titik koordinat yang menjadi magnet wisata dunia sekaligus benteng terakhir kebudayaan sungai: Pasar Terapung Lok Baintan. Terletak di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, pasar ini bukan sekadar tempat transaksi ekonomi, melainkan panggung pertunjukan budaya yang paling otentik di jantung Kalimantan Selatan.
1. Sejarah dan Filosofi: Warisan Kesultanan Banjar
Pasar Terapung Lok Baintan telah ada sejak zaman Kesultanan Banjar. Berbeda dengan pasar terapung di Thailand atau tempat lain yang sudah mulai dipengaruhi komersialisasi modern, Lok Baintan tetap mempertahankan sisi tradisionalnya.
Bagi masyarakat suku Banjar, sungai adalah jalan raya kehidupan. Filosofi hidup mereka menyatu dengan air, di mana jukung (perahu kecil khas Banjar) bukan hanya alat transportasi, melainkan bagian dari identitas diri. Pasar ini lahir dari kebutuhan masyarakat pesisir sungai untuk bertukar hasil bumi tanpa harus menepi ke daratan, menciptakan sebuah ekosistem ekonomi yang unik dan selaras dengan alam.
2. Atmosfer Pagi: Geliat “Acil” dan Warna-warni Jukung
Pertunjukan sesungguhnya di Lok Baintan dimulai bahkan sebelum matahari menampakkan sinarnya secara penuh. Sekitar pukul 06.00 hingga 09.00 WITA, permukaan Sungai Martapura akan dipenuhi oleh ratusan jukung.
Pemeran utama di pasar ini adalah para perempuan tangguh yang akrab disapa “Acil” (tante/bibi dalam bahasa Banjar). Dengan menggunakan tanggui (topi caping lebar dari daun nipah) untuk menghalau terik matahari, mereka dengan lihai mendayung jukung yang sarat muatan. Pemandangan jukung yang berdesakan, saling kait-mengait, menciptakan hamparan warna-warni dari buah-buahan tropis, sayur-mayur, hingga kue-kue tradisional (wadai) yang sungguh memanjakan mata fotografer dan wisatawan.
3. Sistem Barter: Jejak Ekonomi Klasik yang Masih Hidup
Salah satu keunikan utama yang membuat Pasar Terapung Lok Baintan sangat istimewa adalah masih berlakunya sistem barter (bapanduk dalam bahasa lokal). Di tengah gempuran sistem pembayaran digital dan mata uang rupiah, para pedagang di sini seringkali masih melakukan pertukaran barang antar sesama pedagang.
Misalnya, seorang pedagang jeruk dapat menukarkan hasil kebunnya dengan sayuran atau ikan hasil tangkapan pedagang lain. Praktik ini menunjukkan tingkat kepercayaan dan rasa kekeluargaan yang sangat tinggi di antara masyarakat sungai. Transaksi dilakukan dari jukung ke jukung dengan gerakan tangan yang lincah dan tawar-menawar yang kental dengan dialek Banjar yang ramah.
4. Sensasi Kuliner di Atas Air
Berkunjung ke Lok Baintan tidak lengkap tanpa mencicipi kuliner khas di atas jukung. Ada pengalaman luar biasa saat menyantap Soto Banjar atau Nasi Kuning sambil terombang-ambing pelan oleh riak sungai.
Para pedagang makanan biasanya memiliki jukung khusus yang dilengkapi dengan kompor kecil untuk memasak di tempat. Menikmati secangkir kopi hangat dan sepotong Wadai Bingka di tengah sungai saat udara pagi masih sejuk adalah kemewahan sederhana yang tidak bisa ditemukan di mal-mal mewah perkotaan.
[Image: Colorful jukungs at Lok Baintan Floating Market with merchants in tanggui hats]
5. Madihin: Hiburan Sastra Lisan di Tengah Sungai
Wisatawan yang beruntung seringkali dapat menyaksikan pertunjukan Madihin secara langsung di atas perahu. Madihin adalah seni tutur sastra lisan khas Banjar yang berisi syair-syair jenaka, nasihat, hingga pujian yang dibawakan dengan iringan tabuhan rebana.
Interaksi antara para pedagang yang saling berbalas pantun (bamadihin) menciptakan suasana pasar yang hidup dan penuh tawa. Seni ini bukan hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana diplomasi sosial untuk meredam ketegangan saat pasar sedang sangat ramai dan berdesakan.
6. Aksesibilitas dan Pengalaman Wisatawan
Untuk mencapai Lok Baintan, cara terbaik adalah dengan menyewa klotok (perahu bermotor) dari dermaga di pusat Kota Banjarmasin atau dari Siring Menara Pandang.
- Perjalanan Fajar: Wisatawan biasanya berangkat pukul 05.00 WITA. Perjalanan menyusuri sungai di pagi hari menawarkan pemandangan eksotis berupa rumah-rumah panggung kayu (Rumah Bubungan Tinggi) dan aktivitas pagi warga di tepian sungai, mulai dari mandi hingga mencuci pakaian.
- Wisatawan Lokal & Mancanegara: Lok Baintan telah diakui oleh Kementerian Pariwisata sebagai salah satu Destinasi Wisata Nasional. Tak heran jika setiap akhir pekan, banyak wisatawan mancanegara yang membawa lensa kamera panjang untuk mengabadikan setiap momen di sini.
Tabel: Profil Singkat Pasar Terapung Lok Baintan
| Parameter | Keterangan |
| Lokasi | Sungai Martapura, Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar. |
| Jam Operasional | 06.00 โ 09.30 WITA (Puncak keramaian pukul 07.00). |
| Transportasi | Jukung (dayung) dan Klotok (mesin). |
| Komoditas Utama | Jeruk purut, rambutan, pisang, sayuran, dan ikan sungai. |
| Keunikan | Masih berlaku sistem barter dan penggunaan Tanggui. |
7. Tantangan Pelestarian di Tengah Modernisasi
Meskipun masih eksis, Pasar Terapung Lok Baintan menghadapi tantangan nyata. Maraknya akses jalan darat membuat banyak warga mulai beralih ke pasar-pasar darat yang dianggap lebih praktis. Selain itu, minat generasi muda untuk meneruskan tradisi berdagang di atas jukung mulai berkurang.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus berupaya menjaga kelestarian pasar ini dengan menjadikannya sebagai cagar budaya dan rutin menggelar festival tahunan seperti Festival Pasar Terapung. Dukungan pariwisata sangat penting; setiap rupiah yang dikeluarkan wisatawan untuk berbelanja di jukung adalah napas bagi para “Acil” untuk tetap bertahan di atas air.
Kesimpulan

Pasar Terapung Lok Baintan Kalimantan Selatan adalah sebuah puisi hidup yang tertulis di atas permukaan air. Ia adalah bukti bahwa kemajuan zaman tidak harus melindas kearifan masa lalu. Keindahannya terletak pada kejujuran interaksi manusianya, kesederhanaan cara hidupnya, dan harmoni yang mereka jalin dengan alam.
Mengunjungi Lok Baintan adalah sebuah perjalanan pulang menuju akar kebudayaan Nusantara yang sesungguhnya. Selama jukung-jukung masih mendayung dan pantun-pantun masih bersahutan di Sungai Martapura, Kalimantan Selatan akan tetap memiliki jiwa yang tak akan pernah kering. Mari berkunjung ke Lok Baintan, dukung UMKM lokal, dan jadilah saksi atas indahnya warisan sungai yang abadi ini.
Baca Berita Lainnya Hanya Disini:IRON4D







