
Pagi yang biasanya tenang di beberapa titik kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan mendadak berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga dari berbagai lapisan ekonomi tampak memadati area yang telah disiapkan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM). Pantauan di lapangan hari ini menunjukkan antusiasme yang luar biasa; warga bahkan sudah mulai mengantre sejak fajar menyingsing demi mendapatkan bahan pokok dengan harga yang jauh lebih miring dibandingkan harga di pasar tradisional maupun ritel modern.
Fenomena ini bukan sekadar aktivitas belanja biasa, melainkan cerminan dari tingginya harapan masyarakat Banua akan kedaulatan pangan dan stabilitas ekonomi rumah tangga. Di tengah tren kenaikan harga beberapa komoditas strategis, pasar murah hadir sebagai oase yang memberikan napas lega bagi dapur rakyat.
1. Seruan Ekonomi: Mengapa Warga “Menyerbu” Pasar Murah?
Lonjakan jumlah pengunjung yang mencapai ribuan orang ini dipicu oleh selisih harga yang sangat signifikan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, melalui Dinas Perdagangan dan Dinas Ketahanan Pangan, memberikan subsidi harga yang membuat komoditas utama menjadi sangat terjangkau.
- Beras sebagai Magnet Utama: Beras jenis premium maupun lokal (seperti beras Siam) menjadi barang yang paling cepat ludes. Dengan harga yang disubsidi hingga 20-25%, warga merasa dapat menghemat pengeluaran bulanan mereka secara drastis.
- Minyak Goreng dan Gula Pasir: Dua bahan ini menyusul sebagai komoditas terlaris. Keinginan warga untuk menyetok kebutuhan pokok demi mengantisipasi lonjakan harga di masa mendatang membuat antrean di stan minyak goreng tampak mengular panjang.
- Efek Domino Psikologis: Melihat tetangga atau kerabat yang mendapatkan barang murah memicu efek berantai bagi warga lain untuk ikut berbondong-bondong datang ke lokasi.
2. Peta Distribusi: Merata di Seluruh Wilayah Banua
Antusiasme hari ini tidak hanya terpusat di Kota Banjarmasin atau Banjarbaru. Laporan dari berbagai daerah menunjukkan semangat yang serupa:
- Wilayah Hulu Sungai (Benua Enam): Di kabupaten seperti Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Utara, pasar murah menjadi tempat berkumpulnya masyarakat perdesaan yang rela menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan paket sembako murah.
- Wilayah Pesisir: Di Tanah Bumbu dan Kotabaru, kehadiran pangan murah sangat membantu para nelayan dan buruh pelabuhan dalam menekan biaya hidup harian.
- Kawasan Satelit: Kabupaten Banjar dan Barito Kuala juga mencatatkan angka kunjungan yang luar biasa, di mana stok yang disediakan petugas seringkali habis hanya dalam hitungan jam.
Tabel Perbandingan Harga Pangan Murah vs Pasar Tradisional Hari Ini
| Komoditas | Harga Pasar Tradisional (Rata-rata) | Harga Pangan Murah Hari Ini | Selisih Harga (Hemat) |
| Minyak Goreng (1 Liter) | Rp18.500 | Rp14.000 | Rp4.500 |
| Beras Premium (5 Kg) | Rp78.000 | Rp62.000 | Rp16.000 |
| Telur Ayam (1 Rak) | Rp60.000 | Rp52.000 | Rp8.000 |
| Gula Pasir (1 Kg) | Rp17.500 | Rp15.000 | Rp2.500 |
3. Ketertiban dan Pengamanan: Sinergi di Tengah Keramaian
Meskipun diserbu ribuan orang, pelaksanaan pangan murah hari ini relatif berjalan tertib. Hal ini berkat kesiapsiagaan aparat gabungan dari Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan kepolisian setempat yang membantu mengatur alur antrean.
Panitia pelaksana juga menerapkan sistem kupon dan pembatasan jumlah pembelian per orang. Langkah ini diambil agar distribusi pangan murah berjalan adil dan merata, serta mencegah adanya oknum spekulan yang mencoba memborong barang untuk dijual kembali dengan harga tinggi. Senyum kepuasan terpancar dari wajah ibu-ibu rumah tangga saat mereka berhasil menenteng kantong belanjaan berisi bahan pokok dengan harga terjangkau.
4. Partisipasi Pelaku Usaha dan UMKM Lokal
Pasar murah hari ini juga menjadi panggung bagi para pelaku UMKM lokal Kalimantan Selatan. Selain bahan pokok pabrikan, banyak stan yang menyediakan produk olahan rumah tangga seperti hasil tani segar dari petani lokal, kerupuk ikan, hingga sambal tradisional.
Keterlibatan UMKM ini memberikan dampak ganda:
- Bagi Konsumen: Mendapatkan produk segar berkualitas langsung dari produsen.
- Bagi Pelaku Usaha: Memperluas akses pasar dan meningkatkan volume penjualan mereka di tengah keramaian massa.Pemerintah daerah memang sengaja menggandeng para petani dan peternak lokal agar rantai distribusi menjadi lebih pendek, yang pada akhirnya menguntungkan kedua belah pihak.
5. Strategi Pengendalian Inflasi Daerah (TPID)
Antusiasme warga yang “menyerbu” pasar murah hari ini dipandang sebagai indikator keberhasilan intervensi pemerintah dalam mengendalikan inflasi. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kalimantan Selatan secara aktif memantau pergerakan harga melalui kegiatan ini.
Dengan memberikan akses pangan murah secara masif, tekanan terhadap kenaikan harga di pasar umum dapat diredam. Ini adalah instrumen kebijakan yang sangat efektif untuk menjaga daya beli masyarakat dan memastikan stabilitas ekonomi makro di tingkat provinsi tetap terjaga, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang dinamis.
6. Harapan Masyarakat: Keberlanjutan adalah Kunci
Dibalik keriuhan hari ini, terdapat pesan tersirat dari masyarakat Kalimantan Selatan. Banyak warga berharap agar kegiatan pangan murah seperti ini tidak hanya bersifat temporer atau saat momen tertentu saja.
“Kami sangat terbantu. Harapannya, kalau bisa sebulan sekali atau dua minggu sekali diadakan di tingkat kelurahan,” ujar salah satu warga yang mengantre. Aspirasi ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah untuk merancang program ketahanan pangan yang lebih berkelanjutan dan berbasis kewilayahan agar manfaatnya bisa dirasakan secara lebih rutin oleh masyarakat prasejahtera.
Kesimpulan: Kemenangan Kecil di Dapur Rakyat

Antusiasme luar biasa warga Kalimantan Selatan yang menyerbu pangan murah hari ini adalah bukti bahwa kebutuhan dasar tetap menjadi prioritas utama. Kehadiran pemerintah di tengah-tengah masyarakat melalui aksi nyata seperti ini mampu memberikan suntikan semangat dan rasa aman secara ekonomi.
Pasar murah hari ini bukan sekadar tentang transaksi jual beli, melainkan tentang bagaimana sebuah kebijakan mampu menyentuh aspek paling fundamental dalam kehidupan bermasyarakat: ketersediaan makanan di meja makan. Selama sinergi antara pemerintah, distributor, dan masyarakat tetap terjaga, maka tantangan ekonomi seberat apa pun akan terasa lebih ringan untuk dipikul bersama oleh seluruh rakyat Banua.
BACA BERITA LAINNYA DARI KAMI HANYA DISINI:
โBERITA LINK5000
โBERITA BOLA
โBERITA KALTIM
-BERITA KALTENG

















