Haul Datu Kelampayan di Banjar Kalimantan Selatan: Ribuan Jemaah Padati Martapura

Lautan manusia kembali memutih di Bumi Selamat, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Gema selawat dan zikir melangit, menembus sela-sela kepadatan barisan jemaah yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. Peringatan wafatnya atau Haul Datu Kelampayan di Banjar Kalimantan Selatan tahun 1447 Hijriah (2026) ini membuktikan betapa besarnya kecintaan umat terhadap sosok ulama besar, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Sejak fajar menyingsing, ribuan jemaah padati Martapura dan kawasan Astambul, menciptakan atmosfer spiritual yang begitu kental dan mengharukan.

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, atau yang lebih akrab disapa Datu Kelampayan, bukan sekadar tokoh agama bagi warga Kalimantan Selatan. Beliau adalah mercusuar ilmu, penulis kitab legendaris Sabilal Muhtadin, dan peletak fondasi hukum Islam di Kesultanan Banjar. Haul beliau bukan hanya seremoni tahunan, melainkan momentum bagi umat Islam untuk mereguk kembali kearifan dan keteladanan sang ulama yang pengaruhnya menembus hingga ke Asia Tenggara.

1. Antusiasme Jemaah: Magnet Spiritual dari Martapura hingga Luar Negeri

Kepadatan jemaah pada haul kali ini mencatatkan sejarah baru. Arus kedatangan jemaah sudah terlihat sejak dua hari sebelum hari puncak. Martapura, sebagai titik sentral, berubah menjadi “Kota Putih” karena dominasi busana muslim yang dikenakan jemaah.

  • Kedatangan dari Berbagai Daerah: Tak hanya dari kabupaten tetangga seperti Hulu Sungai Tengah (HST) atau Tanah Laut, jemaah juga datang dari Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, hingga jemaah asal Malaysia dan Brunei Darussalam yang memiliki keterikatan batin dengan silsilah keturunan Datu Kelampayan.
  • Titik Kepadatan Utama: Kawasan Dalam Pagar, Astambul, hingga area sekitar makam di Desa Kelampayan dipenuhi jemaah yang duduk bersila di jalanan, pelataran rumah warga, hingga di atas perahu-perahu kecil di sepanjang sungai Martapura.

2. Sosok Datu Kelampayan: Ulama Besar dan Penulis Kitab Sabilal Muhtadin

Mengapa Haul Datu Kelampayan selalu menyedot jutaan perhatian? Jawabannya terletak pada warisan intelektual dan spiritual yang beliau tinggalkan. Beliau adalah ulama yang menghabiskan waktu puluhan tahun menuntut ilmu di Makkah dan Madinah sebelum kembali ke tanah Banjar atas perintah gurunya untuk menyebarkan syiar Islam.

  • Kitab Sabilal Muhtadin: Kitab ini menjadi referensi utama fikih mazhab Syafi’i di Nusantara hingga Malaysia dan Thailand Selatan. Warisan ilmu inilah yang membuat nama beliau tetap hidup di hati para santri dan masyarakat luas.
  • Pembangunan Peradaban: Beliau menginisiasi sistem pengairan (kanal) yang kini dikenal dengan sebutan “Sungai Tuan”, menunjukkan bahwa beliau adalah ulama yang peduli pada kesejahteraan ekonomi dan pertanian masyarakat.

Tabel Estimasi Operasional Haul Datu Kelampayan 2026

Aspek KegiatanDetail InformasiFokus Pelayanan
Estimasi Jemaah500.000 – 1.000.000 JiwaPengaturan Arus Lalu Lintas
Posko Relawan250+ Titik Posko MandiriKonsumsi Gratis & Rest Area
Dapur Umum100+ Dapur Umum WargaDistribusi Nasi Samin & Lauk
Personel KeamananGabungan TNI, Polri, & BPKKeamanan Jalur & Parkir
Transportasi SungaiPuluhan Kapal Klotok GratisPenyeberangan Jemaah

3. Budaya Gotong Royong: Kearifan Lokal Masyarakat Banjar

Salah satu fenomena paling menyentuh dalam pelaksanaan Haul Datu Kelampayan adalah semangat gotong royong atau “mufakat” warga Banjar. Masyarakat setempat dengan sukarela membuka pintu rumah mereka untuk para jemaah.

  • Konsumsi Gratis: Di sepanjang jalan menuju lokasi haul, warga berdiri di pinggir jalan membagikan makanan, kopi, hingga buah-buahan secara cuma-cuma. Dapur umum di perkampungan memasak ribuan blek (kaleng besar) beras untuk diolah menjadi nasi samin khas Banjar.
  • BBM Gratis: Tak jarang ditemukan posko relawan yang menyediakan bahan bakar minyak (BBM) gratis bagi pengendara motor jemaah yang datang dari jauh. Hal ini menunjukkan bahwa Haul Datu Kelampayan adalah pesta kedermawanan bagi warga Kalimantan Selatan.

4. Pengaturan Lalu Lintas dan Sinergi Aparat

Mengingat ribuan jemaah yang memadati jalanan, Polres Banjar bersama Dinas Perhubungan dan para relawan BPK (Barisan Pemadam Kebakaran) bekerja ekstra keras melakukan rekayasa lalu lintas.

Beberapa jalur utama menuju Astambul dan Martapura dialihkan atau dijadikan satu arah guna mencegah kemacetan total. Pemanfaatan kantong-kantong parkir di area yang luas sangat membantu kelancaran arus. Jemaah diimbau untuk datang lebih awal dan mematuhi instruksi petugas di lapangan demi keselamatan bersama.

5. Dampak Ekonomi dan Pariwisata Religi

Selain aspek spiritual, Haul Datu Kelampayan juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi UMKM di Martapura. Toko-toko perlengkapan muslim, penjual tasbih, hingga penginapan dan hotel di sekitar Martapura mengalami lonjakan omzet yang sangat drastis.

Pemerintah Kabupaten Banjar dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan kini semakin serius menata kawasan wisata religi ini. Perbaikan infrastruktur jalan menuju makam dan pembangunan fasilitas umum di sekitar area haul terus dilakukan agar para jemaah dapat beribadah dengan lebih nyaman dan khusyuk.

6. Pesan Moral dan Keagamaan

Dalam ceramah yang disampaikan oleh para ulama pada hari puncak, inti dari peringatan haul ini adalah untuk mengingat kematian dan meneladani kegigihan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam menuntut ilmu dan membela kebenaran.

Haul ini menjadi ajang persatuan umat yang luar biasa. Di tengah perbedaan pandangan politik atau latar belakang sosial, semua orang duduk setara di atas sajadah yang sama, mengharap keberkahan dan doa dari Sang Khalik melalui wasilah para kekasih-Nya.

Kesimpulan: Warisan Abadi Sang Ulama Nusantara

Perhelatan Haul Datu Kelampayan di Banjar Kalimantan Selatan adalah bukti bahwa api semangat perjuangan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari tidak pernah padam. Meskipun beliau telah wafat berabad-abad yang lalu, jutaan orang tetap datang dengan sukarela, membuktikan bahwa ilmu yang bermanfaat dan akhlak yang mulia adalah warisan yang jauh lebih berharga daripada harta benda.

Pemandangan ribuan jemaah yang memadati Martapura setiap tahunnya adalah pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga identitas Kalimantan Selatan sebagai “Serambi Mekkah” yang religius, santun, dan penuh dengan semangat kebersamaan. Semoga semangat Haul Datu Kelampayan ini terus membawa keberkahan bagi Kalimantan Selatan dan seluruh umat Islam di dunia.

BACA BERITA LAINNYA DARI KAMI HANYA DISINI:
โ€“BERITA IRON4D
โ€“BERITA BOLA
โ€“BERITA KALTIM
โ€“BERITA KALTENG

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *